Ceramah Tarawih Perdana, Rektor UIN Ar-Raniry Soroti Dimensi Aqidah, Syariah, dan Akhlak

Iklan Semua Halaman

Akurat, Objektif dan Terpercaya, Mengungkap Hal-Hal Yang Menarik dan Sesuai Fakta

Ceramah Tarawih Perdana, Rektor UIN Ar-Raniry Soroti Dimensi Aqidah, Syariah, dan Akhlak

Kamis, 19 Februari 2026


Aceh Publish | Banda Aceh — Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Dr Mujiburrahman MAg menyampaikan ceramah Tarawih perdana Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Fathun Qarib, kampus setempat, Rabu (18/2/2026).


Dalam ceramah bertajuk Filosofi Ramadan Mubarak, Mujiburrahman menegaskan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana transformasi spiritual yang berlandaskan tiga pilar utama yakni aqidah, syariah, dan akhlak.


Mengawali tausiyahnya, ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa puasa merupakan manifestasi ketauhidan dan bukti konkret keimanan seorang hamba kepada Allah SWT.


“Perintah puasa hanya ditujukan kepada orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah momentum pengejawantahan iman dalam bentuk ketaatan,” ujarnya.


Ia mengingatkan, pengakuan iman harus dibuktikan dengan kepatuhan menjalankan ibadah puasa, kecuali bagi mereka yang memiliki uzur syar’i. Puasa, kata dia, menjadi titik tolak menuju derajat takwa sebagaimana tujuan utama yang ditegaskan dalam Al-Qur’an.


Dalam aspek aqidah, Mujiburrahman menekankan pentingnya menjaga kemurnian tauhid. Ia mengingatkan bahwa praktik syirik, baik besar maupun kecil seperti riya, dapat menggugurkan nilai ibadah, termasuk puasa. Ia mengutip Surah Al-Kahfi ayat 110 sebagai landasan agar setiap amal dilakukan dengan ikhlas dan tidak menyekutukan Allah.


Sementara dalam dimensi syariah, ia menegaskan bahwa ibadah puasa harus dilandasi ilmu dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Tanpa dasar pengetahuan yang benar, amal ibadah berpotensi tertolak. Ia merujuk Surah Al-Furqan ayat 23 tentang amal yang tidak sesuai tuntunan sehingga menjadi sia-sia.


“Beribadah tanpa ilmu bisa berujung pada kerusakan yang lebih besar daripada maslahat,” katanya, mengutip pandangan ulama klasik.


Adapun dalam konteks akhlak, Rektor menyoroti pentingnya menjaga etika sosial selama Ramadan. Ia mengingatkan bahwa perilaku seperti ghibah, adu domba, dusta, pandangan yang tidak terjaga, hingga sumpah palsu dapat menghilangkan pahala puasa.


“Bisa jadi seseorang berpuasa, tetapi yang ia peroleh hanya lapar dan dahaga,” ujarnya mengutip hadis Nabi.


Mujiburrahman berharap Ramadan menjadi momentum perbaikan diri secara menyeluruh, tidak hanya dalam hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga dalam relasi sosial antar sesama manusia.


Ia menutup ceramah dengan ajakan menjadikan Ramadan sebagai ruang transformasi menuju pribadi yang kembali pada fitrah dan mencapai derajat takwa.