MEULABOH — Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., bersama jajaran pimpinan universitas menggelar silaturahmi dengan para ulama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat di Kampus UTU, Kamis (2/10/2026). Pertemuan bertajuk “Harmonisasi Kehidupan Beragama di Lingkungan Universitas Teuku Umar” ini menjadi langkah strategis kampus dalam memperkuat pilar keagamaan dan kearifan lokal.
Forum yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan ini dihadiri oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Barat Tgk. H. Mahdi Kari US, S.Pd.I., Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Barat Tgk. H. Mawardi Nyak Man, serta jajaran ormas Islam seperti HUDA, PERTI, MUDAB, PCNU, MABAB, dan ISIM Aceh Barat.
Rektor UTU, Prof. Nyak Amir, menegaskan bahwa kampus yang dipimpinnya tidak bisa berdiri sendiri dan terpisah dari peradaban masyarakat sekitar. Menurutnya, kampus memiliki beban moral untuk mencetak generasi cerdas berkarakter yang berakar kuat pada nilai sosial dan keagamaan.
“UTU tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, silaturahmi ini penting untuk mendengar langsung pandangan, harapan, dan masukan dari ulama serta tokoh masyarakat. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengembangkan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter berbasis agama, adat, dan budaya lokal,” ujar Prof. Nyak Amir.
Langkah ini mendapat apresiasi tinggi dari para pimpinan lembaga adat dan keagamaan. Ketua MPU Aceh Barat, Tgk. H. Mahdi Kari US, menyebut dialog antara ulama dan perguruan tinggi sangat krusial agar ilmu pengetahuan yang dipelajari mahasiswa tetap berjalan selaras dengan akhlakul karimah. Di sisi lain, Ketua MAA Aceh Barat, Tgk. H. Mawardi Nyak Man, mendorong UTU untuk aktif mengkaji dan mendokumentasikan kearifan lokal Aceh agar tak tergerus zaman.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan penting berupa rekomendasi utama: pelaksanaan kehidupan kampus di UTU harus sejalan dengan Syariat Islam dan kearifan lokal masyarakat Aceh Barat.
Melalui komitmen bersama ini, UTU menegaskan posisinya tidak hanya sebagai pusat keunggulan akademik, tetapi juga sebagai benteng moral dan pelestari nilai-nilai keislaman di Tanah Rencong.
Komentar