Aceh Publish | Banda Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melalui Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) mencatat sebanyak 31 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Aceh sepanjang Mei 2026. Dari jumlah tersebut, kebakaran, baik kebakaran permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masih menjadi bencana yang paling dominan dengan total 19 kejadian atau hampir 60 persen dari keseluruhan kejadian bencana yang tercatat selama bulan tersebut.
BPBA memperkirakan total kerugian akibat berbagai kejadian bencana selama Mei 2026 mencapai sekitar Rp28 miliar.
Berdasarkan data BPBA, rincian kejadian bencana meliputi 12 kejadian kebakaran, 7 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 6 kejadian angin puting beliung, 4 kejadian banjir, dan 2 kejadian abrasi. Seluruh kejadian tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh dengan tingkat dampak yang berbeda-beda.
Selain menimbulkan kerugian materiil yang besar, rangkaian bencana tersebut juga menyebabkan 134 unit rumah mengalami kerusakan serta 304 rumah terendam banjir.
Kepala Pelaksana BPBA, Bahron Bakti, ST, MT, mengatakan dominasi kejadian kebakaran pada bulan Mei menjadi perhatian serius mengingat sebagian wilayah Aceh mulai memasuki musim kemarau. Menurunnya curah hujan serta kondisi cuaca yang semakin kering dinilai meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut, semak belukar, dan area perkebunan.
“Tren kejadian pada bulan Mei menunjukkan bahwa kebakaran masih menjadi ancaman utama di Aceh. Oleh karena itu, seluruh pihak perlu meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus meningkat pada bulan-bulan berikutnya,” ujar Bahron Bakti.
Selain kebakaran, kejadian angin puting beliung yang terjadi sebanyak enam kali turut menyebabkan kerusakan pada rumah dan fasilitas masyarakat di beberapa daerah. Sementara itu, empat kejadian banjir masih terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang mengakibatkan ratusan rumah terendam.
Di wilayah pesisir, dua kejadian abrasi tercatat menyebabkan pengikisan garis pantai yang berpotensi mengancam infrastruktur serta aktivitas masyarakat di kawasan terdampak.
Dari sisi dampak kemanusiaan, seluruh kejadian bencana selama Mei 2026 mengakibatkan 1.007 kepala keluarga (KK) atau 3.459 jiwa terdampak. Selain itu, karhutla juga menyebabkan sekitar 26 hektare lahan terbakar dan terdampak, menjadikannya salah satu fokus utama dalam upaya penanggulangan bencana di Aceh.
Menghadapi meningkatnya ancaman karhutla, BPBA bersama BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya terus memperkuat langkah penanganan dan pencegahan. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari patroli terpadu di wilayah rawan karhutla, pemantauan titik panas (hotspot), penyebarluasan informasi peringatan dini, sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, hingga peningkatan kesiapan personel dan peralatan pemadaman.
BPBA juga memastikan koordinasi lintas sektor terus diperkuat guna menjamin respons cepat terhadap potensi kebakaran. Pemantauan kondisi cuaca dan potensi karhutla dilakukan secara berkala sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.
Bahron Bakti mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.
“Mitigasi dan pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam mengurangi risiko bencana. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, kita berharap kejadian karhutla maupun bencana lainnya dapat ditekan sehingga dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan dapat diminimalkan,” tutup Bahron Bakti.
Komentar