Mahasiswa KKN R-XXIX-57 USK Gelar Simulasi Mitigasi Gempa di SDN 7 Ulim, Tanamkan Kesiapsiagaan Sejak Dini

Iklan Semua Halaman

Akurat, Objektif dan Terpercaya, Mengungkap Hal-Hal Yang Menarik dan Sesuai Fakta

Mahasiswa KKN R-XXIX-57 USK Gelar Simulasi Mitigasi Gempa di SDN 7 Ulim, Tanamkan Kesiapsiagaan Sejak Dini

Sabtu, 08 Agustus 2026


Pidie Jaya , 25 Juli 2026 - Belajar dari pengalaman bencana yang pernah melanda wilayah Pidie Jaya, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala (USK) R-XXIX-57 menghadirkan edukasi kesiapsiagaan sekaligus simulasi mitigasi bencana gempa bumi bagi siswa SDN 7 Ulim, Gampong Masjid. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya nyata mahasiswa dalam menanamkan kesadaran dan keterampilan menghadapi bencana sejak usia dini.

Program tersebut tidak hanya dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan kerja mahasiswa KKN, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan anak-anak yang hidup di wilayah dengan potensi bencana. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, para siswa diajak memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi terjadi.

Kegiatan dipandu oleh dua mahasiswa KKN, yakni Qanun Meukuta Alam Alasyi dari Program Studi Manajemen USK sebagai pemateri dan Riski Suci Wardani Saragih dari Program Studi Bimbingan dan Konseling USK sebagai pemandu simulasi evakuasi sekaligus perancang kegiatan.


Yel - Yel Siaga dan Gerakannya 

Kegiatan diawali dengan ice breaking berupa yel-yel yang dipimpin Riski Suci Wardani Saragih. Saat seruan “Siaga gempa?” diteriakkan, para siswa dengan penuh semangat menjawab, “SIAP! TANGGAP! SELAMAT!” sambil mengikuti gerakan yang diperagakan di depan kelas.

Suasana kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Qanun Meukuta Alam Alasyi. Para siswa diperkenalkan pada pengertian dan tujuan kesiapsiagaan bencana, berbagai jenis bencana, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan dan dihindari ketika gempa bumi terjadi.

Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan komunikatif sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga dapat memahami tindakan konkret yang perlu dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa KKN kemudian mengajak para siswa menyanyikan lagu bertema mitigasi bencana secara bersama-sama. Pesan keselamatan disampaikan melalui lirik sederhana, seperti “kalau ada gempa masuk kolong meja, kalau ada gempa lindungi kepala, kalau ada gempa hindari kaca-kaca.”

Cara tersebut membuat materi mitigasi lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak. Pesan penting mengenai keselamatan pun disampaikan dalam suasana yang menyenangkan dan interaktif.


Praktik Proses Evakuasi Para Siswa Menuju ke Titik Kumpul yang Aman.

Setelah sesi edukasi, kegiatan memasuki tahap simulasi. Begitu sirene tanda bahaya dibunyikan, para siswa langsung mempraktikkan tindakan penyelamatan diri dengan melindungi kepala menggunakan tas sekolah atau buku tebal, kemudian berlindung di bawah meja masing-masing.

Siswa yang berada di dekat jendela juga diarahkan untuk segera berpindah menuju tempat yang lebih aman. Simulasi dilakukan secara berulang hingga para siswa terbiasa dengan tiga langkah utama saat terjadi gempa, yakni melindungi kepala, berlindung di bawah meja, dan menjauh dari jendela.

Tidak berhenti pada tindakan saat gempa berlangsung, mahasiswa KKN juga memberikan pelatihan evakuasi setelah guncangan mereda. Para siswa diarahkan keluar dari ruang kelas secara tertib sambil tetap melindungi kepala dan mengikuti arahan.

Dalam proses evakuasi, siswa diingatkan untuk tidak berlari, tidak saling mendorong, tidak berteriak, serta tidak kembali ke dalam ruangan. Mereka kemudian diarahkan menuju titik kumpul di area terbuka yang aman dan jauh dari pepohonan maupun potensi bahaya lainnya.

Sesampainya di titik kumpul, para siswa juga dilatih untuk memastikan seluruh teman sekelas telah keluar dan berkumpul dalam keadaan aman. Langkah sederhana tersebut diperkenalkan sebagai bagian penting dari upaya memastikan tidak ada warga sekolah yang tertinggal ketika terjadi bencana.

Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan, kegiatan ditutup dengan kuis interaktif. Para siswa tampak antusias menjawab berbagai pertanyaan mengenai tindakan yang tepat sebelum, saat, dan setelah gempa bumi.

Riski Suci Wardani Saragih selaku perancang program kerja mengatakan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap kondisi wilayah yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi bencana banjir dan gempa.

Menurutnya, edukasi mitigasi bencana tidak seharusnya dipandang sebagai pengetahuan tambahan semata, melainkan sebagai bekal penting yang dapat menentukan keselamatan seseorang ketika bencana benar-benar terjadi.

“Pengetahuan tentang mitigasi bencana bukan sekadar materi tambahan, tetapi merupakan bekal hidup. Dengan mengetahui apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, anak-anak diharapkan mampu melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN R-XXIX-57 USK berharap edukasi yang diberikan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Kebiasaan untuk tetap tenang, melindungi diri, melakukan evakuasi dengan tertib, serta memahami titik aman diharapkan dapat menjadi refleks yang melekat dalam diri para siswa.

Bagi mahasiswa KKN, kegiatan ini mungkin merupakan sebuah langkah sederhana. Namun, di balik simulasi singkat tersebut tersimpan harapan besar agar generasi muda memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan yang lebih baik dalam menghadapi bencana.

Dari ruang kelas SDN 7 Ulim, pesan sederhana tentang kesiapsiagaan ditanamkan: ketika bencana datang, kepanikan bukan pilihan kesiapan adalah penyelamatan.