Sentuh Aspek Rohani WBP, Program “Masuk Napi Keluar Santri” Rutan Mamuju Tuai Apresiasi Ombudsman

Iklan Semua Halaman

Akurat, Objektif dan Terpercaya, Mengungkap Hal-Hal Yang Menarik dan Sesuai Fakta

Sentuh Aspek Rohani WBP, Program “Masuk Napi Keluar Santri” Rutan Mamuju Tuai Apresiasi Ombudsman

Selasa, 20 Oktober 2026


MAMUJU, 21 Oktober 2026 – Sebuah langkah inovatif dan humanis yang ditampilkan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Barat dalam membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Melalui program keagamaan bertajuk “Masuk Napi Keluar Santri” , Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Mamuju berhasil membawa perubahan nyata bagi warga binaan, dari yang awalnya belum mengenal huruf hijaiyah hingga lancar membaca Al-Qur'an.

Keberhasilan program inovatif ini mendapat apresiasi langsung dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat saat melakukan peninjauan dan monitoring penyelenggaraan pelayanan publik di Rutan Kelas IIB Mamuju, Rabu (21/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulawesi Barat, Said Mahdar mendampingi langsung tim Ombudsman RI Perwakilan Sulbar untuk meninjau berbagai aspek pelatihan, mulai dari pelatihan kemandirian hingga pelatihan kerohanian. 

Pembinaan Menyeluruh: Dari Keterampilan hingga Sentuhan Spiritual

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sulawesi Barat mengapresiasi tinggi konsistensi jajaran Rutan Mamuju. Menurutnya, pelatihan yang berjalan tidak hanya fokus pada pembekalan keterampilan fisik dan ekonomi (kemandirian), tetapi juga menyentuh aspek moral, karakter dan spiritual.

Melalui bimbingan bertahap dalam program “Masuk Napi Keluar Santri” , warga binaan yang sebelumnya buta huruf Al-Qur'an kini dituntun hingga fasih membaca. Hal ini membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan kini hadir bukan sekedar sebagai tempat menjalani hukuman pidana,melainkan sebagai ruang transformasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Mewujudkan Pemasyarakatan Humanis dan Berkelanjutan
Menangapi apresiasi tersebut, Kakanwil Ditjenpas Sulawesi Barat, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih. Ia menegaskan bahwa pelatihan kemandirian dan penguatan spiritual merupakan dua pilar utama yang saling melengkapi.

“Keterampilan produktif menjadi bekal ekonomi warga binaan saat kembali ke masyarakat, sedangkan penguatan spiritual menjadi landasan moral agar mereka tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Kami ingin para warga binaan pulang membawakan ilmu, keterampilan, dan karakter yang berkahlak mulia,” ujar Said Mahdar.

Ia menambahkan,jajaran pemasyarakatan Sulawesi Barat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang profesional,tabel akun,dan humanis, serta berfokus pada hak-hak warga binaan.

Sinergi antara Ombudsman RI Sulbar dan Ditjenpas ini diharapkan terus terjalin erat sebagai wadah pengawasan konstruktif demi terwujudnya pelayanan masyarakat yang berdampak nyata bagi masyarakat.